Akankah Drama FREN Bikin Investor Tercengang?

SumberBerita.net – Pelaku pasar banyak membicarakan aksi korporasi PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) dengan aksi right issue. Pasalnya, harga right issue (RI) maupun warran yang diterbitkan melonjak fantastis, saat saham induk relatif stagnan, bahkan anjlok saat cum date RI.

Jumat pagi, (30/4/2021), FREN-W2 termasuk yang sangat aktif ditransaksikan di Bursa Efek Indonesia, melonjak hingga 3.800% dari nominal Rp 1 menjadi Rp 38. Meski perdagangan sangat fluktuatif, tetapi pergerakan FREN-W2 menjadi perhatian pasar, mengingat kenaikan satu stik sudah naik sekitar 3%. Mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta yang juga pengamat pasar modal, Hasan Zein Mahmud, tidak habis pikir dengan pergerakan saham belakangan ini.

“Bursa saham modern adalah sebuah panggung raksasa. Pertunjukan drama terbesar. Isi terbesarnya adalah buzzing, bluffing, teasing, influencing, influencing, bubbling pom pom, bahkan dan hipnotis dan kebohongan,” katanya.

Ditanya tentang aksi korporasi FREN, Hasan Zein menjelaskan, FREN melakukan right issue, penawaran efek dengan HMETD. Setiap 52 saham lama, mendapai 1 HEMETD. Tiap HMETD berhak membeli satu saham baru pada harga (tebus, harga pelaksanaan, exercise price) Rp 120. Setiap 5 saham baru hasil right issue akan memperoleh 79 Waran Seri III cuma cuma. Dan setiap waran berhak membeli satu saham baru pada harga Rp 100, selama periode sampai dengan 27 April 2026. Harga saham FREN pada penutupan pasar Kamis 29 April, saat cum date RI, turun cukup tajam menjadi Rp 85. “Yang sangat luar biasa adalah harga rightnya di Bursa.

Kamis kemarin ditutup pada harga Rp 414. Luar biasa. Dahsyat. Dramatis! “. Ia menjelaskan, Ada dua cara memperoleh saham FREN
[1] Membeli langsung di bursa, membayar Rp 85
[2] Membeli right Rp 414 lalu menebus Rp 120. Artinya membayar Rp 534 untuk memperoleh saham yang sama “Dahsyat karena ternyata investor rebutan untuk memilih alternatif ke dua,” katanya.

Pasalnya, karena ada “sweetener”. Waran cuma cuma. Ia pun mempertanyakan, karena waran pada prinsipnya masih out of the money. Istilah akdemis untuk menggambarkan hak untuk membeli sesuatu pada harga yang lebih tinggi dari harga pasar. “Beli di bursa Rp 85, beli pakai waran – yang katanya kupon diskon – Rp 100. Malah lebih mahal?”. Ia mengakui, memang ada periode lima tahun. Bisa saja dalam lima tahun kemudian FREN menyulap rugi berkepanjangan. Hasan Zein mengajak investor berhitung menggunakan logika, mungkinkah kinerja FREN menyalip TLKM dan meraih untung ratusan kali lipat sehingga warannya menjadi harta karun? Mebalikkan Logika Pasar Menurut dia, pergerakan saham saat ini seringkali membalikkan logika pasar. Yang konvensional dianggap kuno. Harus dibuang kalau mau survive. Sebaliknya, pasar tidak menghargai kinerja perusahaan yang dikelola dengan jujur, bertanggung jawab dan transparan.

“Prestasi perusahaan menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat, memberi kesempatan kerja, berusaha memperoleh marjin keuntungan yang layak, mengelola perusahaan dengan, kini tak lagi punya harga,” jelasnya. Yang bernilai dan dihargai adalah kepintaran melakukan rekayasa keuangan yang canggih. Yang tidak nampu dicerna oleh logika logika sederhana, kemampuan membangun drama dan menyihir. Di situ tumpukan harta karun berada.

Jiwasraya dan Asabri dua contoh hasil drama bursa saham. Kripto contoh kecanggihan pikir dan kehebatan drama. Bursa saham memang tak ada urusan dengan kepedulian sesama. Apalagi keluhuran sosial. Bursa saham modern adalah arena pertandingan hidup mati, ujarnya dengan geram. Ia sangat prihatin dengan kondisi pasar seperti ini. “Karena itu, sahabat investor, mari lupakan kemakmuran bersama, mari lupakan pemerataan kesejahteraan, lupakan bahwa perusahaan publik itu dibiayai secara gotong royong untuk pengembangan usaha. Moral, kohesi sosial, empati akan menjadi penghalang besar bagi anda untuk mendaki puncak kekayaan materi. Peganglah prinsip: Yang penting toh cuan.” Hasan Zein sangat geram dengan pemikiran. “Yang paling penting adalah bagaimana saya bisa memanfaatkan seluruh peluang untuk mengakumulasikan kekayaan dengan menyedot dari orang orang yang lebih bodoh dari saya,”. Ini sangat memprihatinkan. (investor)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *